BNPB: Alat Peringatan Dini Tsunami di Lampung Jadi Korban Vandalisme



Jakarta - Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL) atau alat peringatan dini tsunami di Pulau Sebesi, Lampung menjadi korban aksi vandalisme. Kabel aki yang terpasang pada alat tersebut dipotong oleh orang tak bertanggung jawab.

"BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mengimbau semua pihak, khususnya masyarakat, untuk turut menjaga alat peringatan dini tsunami. Hal tersebut mengingat beberapa waktu lalu vandalisme terjadi terhadap alat IDSL yang terpasang di sekitar Pulau Sebesi, Lampung," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, dalam siaran persnya, Sabtu (2/11/2019).

Aksi vandalisme itu, kata Agus, diketahui pada Oktober lalu. Beruntung, alat itu masih berfungsi meski dalam kondisi dirusak.

"Perusakan dilakukan pada kabel aki pada Oktober lalu. Meskipun saat itu kabel terpotong, alat masih dapat berfungsi karena menggunakan solar panel. Dapat dibayangkan apabila ada oknum yang sengaja merusak atau mengambil komponen alat ini sehingga tidak mampu lagi hidup dan memberikan sinyal peringatan dini," ujar Agus.

Pasca-diketahui dirusak, alat tersebut langsung diperbaiki dan saat ini kembali dalam kondisi normal. BNBP mengajak semua pihak ikut berpartisipasi menjaga alat peringatan dini tsunami.

"Oleh karena itu, semua pihak didorong BNPB untuk turut mengawasi dan menjaga peralatan yang sangat vital dalam peringatan dini terhadap potensi bahaya tsunami. Saat ini, peralatan tersebut telah diperbaiki dan berjalan normal kembali," Agus menyampaikan.

Agus menjelaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Uni Eropa (JRC-EC), yang mengembangkan peralatan ini, merekomendasikan agar ada pihak yang ditunjuk untuk diberi tanggung jawab penuh menjaga IDSL yang telah terpasang. Pihak yang dimaksud ialah perangkat desa setempat.

"Ini dimaksudkan KKP untuk mengantisipasi adanya tindakan vandalisme ke depan. KKP sudah mengontak Perangkat Desa Sebesi untuk menjaga dan merawat alat tersebut," jelas Agus.

Agus menerangkan IDSL sengaja dikembangkan untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. Alat ini masih dalam kerangka penelitian.

"Terpasang di empat tempat, yaitu Marina Jambu-Banten, Pulau Sebesi - Lampung, Pangandaran dan Pelabuhan Sadeng, DIY. Data IDSL dapat diakses secara gratis di website JRC-EC dan telah dimasukkan ke sistem BMKG sebagai salah satu alat Peringatan Dini Tsunami Non-tektonik. Selain BMKG, otoritas Australia, Bureau of Meteorology (BOM) juga telah memanfaatkan sistem IDSL Indonesia," terang Agus.

IDSL dipilih dengan dasar pertimbangan harga yang ekonomis dan mudah diaplikasikan. Teknologi ini juga dinilai mampu untuk mengirimkan transmisi data dan kerapatan data, termasuk tangkapan kamera video secara cepat.

"Alat ini mampu mengirimkan data dengan interval data setiap 5 detik, sedangkan transmisi kurang dari 20 detik. Namun, kecepatan sinyal GSM akan berpengaruh pada kecepatan tersebut. Selain itu, pengadaan alat ini bisa memanfaatkan sistem yang sudah ada, komponen di pasaran dan biaya pulsa relatif murah, sebesar Rp 60 ribu per bulan," ungkap Agus.

Terakhir, Agus menuturkan Pusat Riset Kelautan - KKP berencana untuk memasang 4 tambahan IDSL yang berlokasi di Sumatera Barat (Sumbar), kompleks Gunung Anak Krakatau dan Lombok, NTB. Di Sumbar, alat ini akan ditempatkan di dua lokasi yaitu Teluk Bungus dan Mentawai. Rencananya teknologi ini juga akan diterapkan untuk jaringan pasang surut (pasut) BIG, sehingga mampu dimanfaatkan untuk peringatan dini tsunami.

"September lalu, Pusat Riset Kelautan KKP dan Pusat Penelitian Promosi dan Kerjasama BIG telah menandatangani kerja sama terkait upaya peningkatan kemampuan jaringan pasut BIG sebagai alat peringatan dini tsunami. BNPB dan semua pihak berharap IDSL dapat bermanfaat dan mendukung sistem peringatan dini tsunami lain yang telah terpasang," ucap Agus.

"Tentu, pada ujungnya masyarakat mampu terselamatkan secara cepat dari ancaman bahaya. Oleh karena itu, BNPB berharap semua pihak, khususnya masyarakat, untuk mengawasi dan memonitor peralatan yang telah dipasang di lapangan," sambung dia.




Post a Comment

0 Comments