Detik-detik Menyeramkan Dinosaurus Punah Dihantam Asteroid (II)


Jakarta - Dampak asteroid telah mencapai Eropa Barat, di mana Bumi bergetar dan muncul kebakaran hutan. Sauropods, hewan darat terbesar yang pernah ada, berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Di sekeliling, tanaman-tanaman terbakar habis.

Di teluk Meksiko, terjadi tsunami super berulangkali. 6 jam setelah hujaman, semua hutan di sub benua Hindia yang berjarak 14 ribu kilometer terbakar. Di gurun selatan Mongolia, tidak muncul api namun temperatur terus naik yang membuat hewan terpanggang hidup-hidup.

10 jam pun berlalu. Di Amerika Utara, suhu mulai turun meskipun udara masih begitu tebal dengan asap dari kebakaran hutan. Sejumlah triceraptor mati atau sekarat, telur-telur mereka terabaikan dan membusuk.

1 sampai 7 Hari Setelah Tabrakan

Matahari masih belum menampakkan diri, jelaga dan debu terus menghalangi cahayanya. Ini adalah hari pertama di mana ahli paleontologi menyebutnya sebagai permulaan zaman Cenozoic.

Debu dari kawah masih bertebaran sampai di angkasa. Dalam beberapa minggu, sebagian dari debu tersebut akan mengorbit di Matahari, kemudian ke Mars dan di satelit Saturnus dan Jupiter.

7 hari atau seminggu kemudian, langit masih juga gelap. Sebagai akibatnya, proses fotosintesis tertunda sangat lama dan tanaman pun sekarat. Beberapa dinosaurus herbivora yang selamat seperti sauropods dan hadrosaurus jadi kelaparan.

Kepunahan dinosaurus pada 66 juta tahun silam secara mendadak semakin terbukti karena ada terjangan asteroid. Belum lama ini, ilmuwan dari University of Texas berhasil mengungkap apa yang terjadi pada hari di saat asteroid itu menghujam dengan dahsyat.

Sebelumnya masih hipotesis, studi ini menemukan bukti skenario mengerikan itu benar terjadi, dengan meneliti bebatuan yang dahulu kala memenuhi kawah tempat hujaman asteroid pada 24 jam kemudian. Terkubur ratusan meter, dijumpai bebatuan yang sudah rusak dan meleleh, tapi tak terdapat mineral yang mengandung sulfur meski ada konsentrasi tinggi sulfur di sekitar.

Terindikasi, tabrakan asteroid menguapkan sulfur di bebatuan, kemudian terbentuk aerosol sulfate di atmosfer dan menyebabkan pendinginan temperatur dalam skala global. Diestimasi sedikitnya 325 miliar metrik ton sulfur dihasilkan sebagai imbas hantaman asteroid yang selain dahsyat juga mengakibatkan perubahan iklim.

Berikut detik-detik kejadian itu berdasarkan teori terbaru dari University of Texas yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences:

2 Hari Sebelum Hujaman Asteroid

66 juta tahun silam, di langit malam, mendadak tampak cahaya kecil yang cemerlang. Tidak terlihat bergerak cepat, tapi wujudnya semakin terang. Obyek itu rupanya adalah asteroid berukuran masif, selebar 14 kilometer dan melaju dalam kecepatan fenomenal.

Pada saat itu, di zaman yang disebut Cretaceous atau periode kapur, kehidupan di Bumi sudah berkembang pesat. Dinosaurus berkembang biak di banyak tempat, dengan beragam jenisnya.


Seorang pemancing di Norwegia terkejut setengah mati karena menangkap ikan yang aneh. Dia bahkan sampai hampir meloncat dari kapalnya setelah melihat ikan tersebut menggelepar di ujung kail.

Ikan yang ditangkap Oscar Lundahl itu matanya begitu besar dan bentuknya agak ganjil. Rupanya, ia termasuk dalam spesies ratfish dan hidup di kedalaman air sehingga jarang tertangkap. Matanya yang besar diyakini membantunya melihat di bawah laut.

Meski tak berbahaya bagi manusia, penampilannya memang bikin kaget. Lundahl berkisah bahwa dia sebenarnya sedang mencari ikan jenis halibut biru dan memancing sampai kedalaman 800 meter dengan alat.

"Kami sedang mencari halibut biru yang merupakan spesies langka sekitar 8 kilometer dari pantai," kisahnya.

"Saya melepas 4 pancing dan kemudian merasakan sesuatu yang cukup besar. Perlu waktu sekitar 30 menit bagi saya untuk menariknya karena berada di kedalaman 800 meter,"

"Ada dua halibut di dua pancing dan saya melihat sesuatu yang lain. Saya tak pernah melihatnya sebelumnya. Terlihat aneh, seperti dinosaurus. Saya tak tahu itu apa, tapi kolega saya tahu," cetus Lundahl.

Karena perubahan suhu yang ekstrim, ratfish tersebut mati. Tak ingin membuangnya begitu saja, Landahl memutuskan menggorengnya dan ternyata menurutnya rasanya lezat. "Seperti ikan cod, tapi lebih enak,"

Post a Comment

0 Comments