Jakarta - Rencana majunya putra dan menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, dan Bobby Nasution pada Pilkada 2020 dihubungkan dengan dinasti politik. Tak langsung reaktif, Jokowi punya cara sendiri untuk menepis tudingan itu.

Adalah Presiden PKS Sohibul Iman yang berbicara soal dinasti politik terkait rencana majunya Gibran di Pilwalkot Solo dan Bobby di Pilwalkot Medan.

"Ya kira kita sebagai pihak yang konsen dengan masalah demokrasi, kan demokrasi yang ingin kita bangun demokrasi substansial ya bukan prosedural, tentu harus terbebas dari distorsi," kata Sohibul pada 5 Desember lalu.

Sohibul mengatakan adanya dinasti politik akan menimbulkan distorsi yang besar. Dia berharap dinasti politik jangan dikembangkan di negara demokrasi.

"Memang kalau ada dinasti ya distorsi akan besar, jadi saya kira alangkah baiknya kita jangan mengembangkan dinasti. Tapi benar berbasiskan merit system," kata Sohibul.

Jokowi tak langsung angkat bicara mengenai 'sindiran' dinasti politik itu. Baru hari ini, ia mengomentari isu soal dinasti politik yang dikaitkan kepada anak dan menantunya.


Menurut Jokowi, maju ke pilkada itu adalah soal kompetisi, bukan penunjukan. Ia meminta agar kompetisi tak disamakan dengan dinasti politik.

"Siapa pun punya hak pilih dan dipilih. Ya kalau rakyat nggak memilih gimana. Ini kompetisi, bukan penunjukan. Beda. Tolong dibedakan," ujar Jokowi seusai peresmian Jalan Tol Jakarta-Cikampek Elevated, Kamis (12/12/2019).

Gibran sendiri baru saja resmi mendaftarkan diri dalam penjaringan bakal calon wali kota ke DPD PDIP Jateng. Sementara Bobby sudah mendaftar ke DPD PDIP Sumut sejak beberapa waktu lalu.

Jokowi mengingatkan, kompetisi dalam pilkada berpulang kepada rakyat. "Itu kan sebuah kompetisi. Kompetisi bisa menang bisa kalah. Terserah rakyat yang memiliki hak pilih," tuturnya.

Meski begitu, Jokowi mengaku enggan mencampuri urusan Gibran yang siap maju pilkada. Ia meminta publik bertanya langsung kepada putra sulungnya.

"Kan sudah saya sampaikan bolak-balik. Bahwa itu sudah menjadi keputusan. Tanyakan langsung ke anaknya," ujar Jokowi.

Soal tudingan dinasti politik, Gibran sudah memberikan tanggapan. Sama seperti sang ayah, ia menepis rencana majunya di pilkada diartikan sebagai dinasti politik.

"Nggak ada dinasti. Saya ini kan ikut kontestasi, bisa menang bisa kalah. Semuanya tergantung pilihan masyarakat. Nggak ada dinasti," kata Gibran kepada wartawan di Sunter Agung, Jakarta Utara, Sabtu (7/12).

Gibran kembali menegaskan niatnya maju pillwakot agar bisa bersumbangsih untuk kemajuan Solo. Menurutnya saat ini menjadi momen yang tepat untuk dia masuk ke ranah politik.

"Saya rasa ini momen yang pas untuk saya. Saya ingin menyumbangkan (potensi) diri saya untuk kota kelahiran saya. Gitu aja," sebut Gibran.

Hal senada juga disampaikan Bobby yang berniat maju di Pilwalkot Medan. Ia mengatakan niatnya menjadi wali kota Medan karena punya semangat membangun seperti mertuanya, Jokowi.


"Kalau dibilang dinasti politik atau kekuasaan, nggak lah. Tapi mungkin yang lebih tepat itu dari sisi dinasti semangat membangun seperti yang ditunjukkan oleh mertua saya," tegas Bobby di Medan, Selasa (10/12).

"Kalo dinasti, ini bukan. Lihat semangatnya, dinasti itu motivasinya. Kalau dinasti dari mertua saya karena mertua saya, saya tak bisa memuji sendiri, bisa dilihat sendiri gimana kerjanya, itu dinastinya. Kita sudah bisa lihat sendiri semangat beliau membangun Indonesia," tambah suami Kahiyang Ayu itu.