Palagan Toya, Tradisi Ngaruwat Lembur dan Tolak Bala di Lembang


Lembang 
Plastik berisi air bening melayang di udara setelah dilempar oleh massa yang terbagi dalam dua kubu. Aksi saling lempar tak terhindarkan membuat warga yang ada di sekitar lokasi perang air ada yang berlindung ada juga yang pasrah.
Satu kubu berisikan tokoh-tokoh pewayangan yang merpresentasikan kebaikan, sedangkan kubu lawan yakni orang bertopeng dengan jubah berwarna hitam sebagai simbol kebatilan.
Pemandangan itu terlihat di Kampung Cibedug, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang masih melestarikan tradisi ruwatan lembur sejak puluhan tahun lalu.

Palagan Toya atau perang air sendiri merupakan salah satu rangkaian acara dalam tradisi ruwatan tersebut. Masyarakat terlibat dalam peperangan tersebut tanpa melihat gender, suku, maupun usia.
Perang air pada gelarang ruwatan tahun ini, agak sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Lantaran menggunakan plastik berisi air bening sebagai senjata. Sedangkan sebelumnya, senjata perang menggunakan plastik berisi susu dan kopi.
Kepala Desa Cikole, Jajang Ruhiat menerangkan, Palagan Toya merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat karena telah diberikan tanah yang subur, serta tolak bala agar terhindar dari marabahaya, kekeringan, dan dijauhkan dari segala macam penyakit.
"Ini sebagai rasa syukur karena kita masih diberikan umur panjang dan dijauhkan dari penyakit seperti virus corona, alhamdulillah. Bukan bermaksud membuang-buang air, tapi ini hanya bentuk ungkapan syukur," kata Jajang, Minggu (8/3).
Jika tahun lalu ruwatan lembur bertema Gapura Ning Rahayu, pada tahun ini ruwatan lembur bertema Rastra Jendral Rahayu Ningrat yang mengandung filosofi sebuah pertempuran antara kebaikan dan kebatilan.
"Sekuat apapun kebatilan, akan hancur oleh kebaikan. Kaitan dengan fenomena wabah virus corona, mudah-mudahan dengan kerja keras pemerintah, virus yang membuat kekhawatiran di seluruh dunia itu bisa punah," jelasnya.
Tak hanya dengan prosesi Palagan Toya yang sangat menarik minat masyarakat, ruwatan lembur juga diisi dengan memanjatkan doa untuk memohon pertolongan dan perlindungan atas segala bencana yang terjadi di Indonesia.
"Melalui ruwatan ini, kita sama-sama berdoa dan membersihkan hati. Virus corona mungkin muncul sebagai pengingat dari Yang Maha Kuasa bahwa kita semua harus bersih hati," tuturnya.
Tokoh masyarakat Kampung Cibedug, Yaya mengungkapkan, ruwatan lembur yang digelar selama dua hari sejak Sabtu (7/3) diisi dengan berbagai kegiatan seperti pengumpulan nasi tumpeng, kesenian Teluk Tilu, Terbangan, Pasanggiri Pencug, dan diakhiri dengan pementasan wayang golek.
"Ruwatan lembur dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan segalanya untuk masyarakat," terangnya.


Post a Comment

0 Comments